Langkah Bertahap Indonesia dalam Mengimpor Minyak dari AS

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia telah memulai proses impor minyak mentah dari AS. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi untuk mengalihkan sumber impor minyak dari wilayah Timur Tengah ke Amerika Serikat, dan dilakukan secara bertahap.

“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,” ujar Bahlil di sela acara buka puasa Kementerian ESDM, Jakarta.

Impor minyak dalam satu langkah besar tidak dapat dilakukan akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan. Dalam menghadapi situasi perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, pemerintah mempercepat pengembangan storage yang merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas penyimpanan.

Standar internasional mengharuskan Indonesia meningkatkan kapasitas penyimpanan hingga 90 hari. “Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival,” kata Bahlil.

Indonesia berhasil mendapatkan investor untuk proyek storage yang akan berada di Sumatera, dengan pembangunan dimulai setelah studi kelayakan selesai. Diharapkan konstruksi bisa dimulai pada tahun berjalan.

Di tengah situasi geopolitik yang kompleks, ketahanan energi menjadi perhatian. Serangan AS-Israel yang memicu ketegangan dengan Iran berujung pada saling serang antara ketiga negara tersebut. Situasi ini memperburuk keamanan jalur penting seperti Selat Hormuz, yang penting bagi perdagangan minyak dunia.

Selat Hormuz adalah jalur utama bagi sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia dan ekspor gas alam cair, membuatnya menjadi elemen vital bagi stabilitas energi global. Dengan demikian, penguatan ketahanan energi nasional melalui diversifikasi dan peningkatan kapasitas penyimpanan menjadi semakin mendesak.